Friday, 22 October 2010

Legend of zelda Ocarina of time

The Queen

“ayo link, ini pasti jalaan menuju ke tempat induk semang dari segala ini” ajak navi melihat kearah sebuah lubang yang jari-jarinya mungkin mencapai 5 kaki atau 7 kaki ditutupi oleh sarang dari Skultula.
“aku akan melihatnya link, aku tidak pernah melihat ruangan bawah tanah ini sebelumnya” dengan cekatan Navi melewati jaring-jaring skultula itu. Aku sedikit cemas melihat Navi pergi sendirian ke tempat yangbisa di bilang adalah tempat yang paling mungkin induk semang dari segala hal yang menyerang Gran Arbol Deku berada.
Aku memutar otakku mencari cara untuk menembus jaring skultula ini. ini adalah jaring yang begitu menjijikkan, jaring yang lentur dengan beberapa spot yang masih terasa lendir skultula. Tidak heran aku melihat beberapa bangkai skulwalltula tergantung di jaring ini, skultula adalah makhluk yang sangat menjijikkan yang pernah aku temui sebelumnya. Aku berfikir kesana kemari mencari celah dari jaring bodoh yang menjijikkan itu. Setidaknya telah beberapa kali aku mencoba untuk memotong jaring bodoh ini dengan espada de kokiri tapi tidak ada efeknya, hanya membuat pedang tua ini terasa sangat menjijikkan.

Aku juga berusaha untuk menggunakan Hadas tirachinas, bisa dibilang benda ini adalah ketapel tapi benda ini hanya dapat digunakan untuk melemparkan tuerca de deku, sejenis biji dari pohon deku tapi aku hanya melihatnya di sini, dalam perut Gran Arbol Deku. Hadas tirachinas ini mungkin senjata yang disimpan oleh Deku tutor yang disebutkan oleh Gran Arbol Deku sesaat setelah kami masuk tadi. Entah sudah berapa terca yang mengenai sarang bodoh itu tapi tetap saja tidak memberikan efek apapun padanya.
“Link, api Link” teriak Navi seraya muncul dari sela-sela jaring berlendir menjijikkan itu.
“kenapa Navi?” aku langsung mencabut pedang dan berlari ke arah Navi.
“kenapa, apa sekarang ada monster api?” tanyaku sambil mengangkat pedang siap untuk bertempur melawan apapun yang mungkin keluar saat itu.
“tidak Link, maksudku api. Di bawah sana aku tidak sengaja menyenggol tungkai obor dan membuat obor itu jatuh dan mengenai jaring skultula sialan di bawah sana. Api langsung melahap seluruh jaring skultula itu dan tidak ada satupun yang tersisa dibawah sana” jelas Navi sambil menenangkanku yang sudah siap akan peperangan.
“jadi” tanyaku selepas penjelasan panjang lebar Navi dengan memasukkan kembali pedangku ke sarungnya.
“gunakan deku stick bodoh. Pakai tubuh Deku baba itu, itu kan bisa dijadikan tongkat kayu untuk membakar sarang sialan ini” Navi langsung terbang ke arah Deku baba yang tadi pertama menyapa kami ketika memasuki tempat ini.
Aku segera menyusul Navi, kemudian dengan espada de kokiri aku memotong batang deku baba dari bunga dan akarnya. Dengan menggunakan deku stick sebagai obor sementara aku membakar habis jaring skultula bodoh itu. Benar saja, jaring skultula yang menutupi lubang ke arah bawah dan jaring-jaring lainnya yang berhubungan dengan lubang itu langsung dilalap habis oleh api. Mungkin karena lendir sialan dari skultula bodoh itu, mungkin karena itu jaringnya begitu mudah terbakar.
Aku segera menuruni lubang itu dengan menggunakan akar merambat di dinding lubang itu. Navi yang telah lebih dahulu berada di bawah memerintahkanku untuk mengambil tempat yang tepat. Benar saja, di bawah ternyata terdapat jauh lebih banyak monster-monster sialan dari pada di atas barusan. Di tempat ini jauh lebih menjijikan dari pada di atas, bahkan mungkin jauh lebih menjijikkan dari jaring bodoh tadi. Beberapa skutula telah bergelantungan di sebelah bangkai-bangkai dari mangsanya. Aku tak mengerti skultula dengan skulwalltula ini satu jenis atau tidak, yang jelas meski bentuk mereka sama skulwalltula kulihat selalu bergelantungan sebagai bangkai di jaring skultula.
“di sana Link, aku yakin di sana tempat induk semang dari segala monster di sini” di sela-sela lamunanku tentang betapa menjijikkan tempat sialan ini Navi mencoba untuk memberitahuku tentang tempat semua ini berasal.
Tempat yang Navi tunjuk memang terlihat sangat mungkin untuk menjadi induk dari segala monster ini. Beberapa deku baba dan skultula-skultula besar menjaga pintu besi itu. aku tidak bisa membayangkan apa yang dijaga oleh monster-monster bodoh itu dengan begitu ketat, apakah sebuah makhluk percampuran dari deku baba dan skultula, atau seekor skultula super besar dengan jaring yang lebih menjijikkan dari segala hal yang aku lihat sebelumnya, atau juga deku baba yang menggila dengan kekuatan berlipat-lipat ganda? Apapun itu yang jelas dia adalah yang paling harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan Gran arbol Deku.
Dengan cekatan aku menggunakan Hadas tirachinas untuk menyingkirkan monster-monster bodoh yang menghalangi jalanku untuk masuk ke dalam pintu yang bahkan aku tidak tau apa isinya. Akupun tidak yakin dengan apa yang kami simpulkan tapi aku merasa ada sesuatu di dalam sana yang sangat kuat yang mempengaruhi semua keadaan di tempat ini. ketapel yang aku temukan ini menurut Navi adalah senjata pelengkap milik kokiri tutor, pahlawan pertama kokiri, Navi juga menjelaskan panjang lebar mengenai kemampuan Hadas tirachinas.
Butuh waktu yang cukup lama untuk memebersihkan jalan menuju pintu besi dengan balutan beberapa lambang-lambang segitiga bertumpuk dan sayap. Setelah beberapa saat kami berhasil dan mampu mencapai pintu itu. aku melihat beberapa bercak darah hijau kehitaman, aku tahu jelas itu adalah darah skultula dan skulwalltula. Aku dan Navi berusaha untuk membuka pintu itu dan yang kurasakan pintu itu begitu berqat bahkan sangat berat mungkin ini jauh lebih berat dari pada semua batu-batu besar di Lost wood digabungkan menjadi satu. Seketika pintu terbuka, saat itu juga aku mencium bau yang begitu busuk. Aku mencoba untuk melihat mungkina ada bangkai-bangkai dari monster-monster penyebab bau busuk itu.
“Link, kau tidak akan menyukai ini” Navi berkata di belakangku sementara aku terus memperhatikan ruangan yang cukup besar ini.
Ruangan ini mungkin mampu menampung seluruh desa kokiri dan beberapa rumah juga bisa dibangun di dalam sini seandainya ruangan ini tidak berbau busuk yang begitu menyengat. Entah ini karena efek dari ruangan ini tidak dimasuki cahaya atau karena ruangan ini berada di bawah tanah, ruangan ini terdapat kabut-kabut air yang cukup tebal hingga mampu membuatku percaya pilar-pilar di ruangan ini tidak menyentuh ketanah. Pilar-pilar besar yang terbuat dari batuan alam yang sangat tinggi, mungkin tingginya sekitar 35 atau 38 kaki.
“Link kau harus segera melihatnya” teriak Navi.
Aku menoleh ke arah Navi dan terlihat dia seakan telah membeku sambil melihat ke arah langit-langit ruangan. Dengan sangat ragu aku mendongakkan kepalaku, dan yang terlihat adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Entah itu makhluk apa, namun makhluk itu mampu memakan skultula yang sebesar tubuhku hanya dengan sekali membuka mulutnya.
“Link itu adalah queen gohma” bisik Navi.
Makhluk itu masih sibuk dengan santapannya, aku yang baru pertama kali melihat monster sebesar itu hanya mampu merasakan kakiku yang mati rasa dan pedangku yang cukup berat untuk dicabut dari sarungnya.
“Link menurut legenda, kalajengking bermata satu ini memiliki racun yang cukup untuk melelehkan tubuh para kokiri dengan satu suntikan dalam jangka waktu yang sangat singkat. Dan para tetua menceritakan bahwa makhluk ini mampu mengeluarkan telur dan menetaskannya tanpa pejantan” jelas Navi dengan berbisik padaku.
Aku melihat Gohma menyadari kehadiran kami. Mata besarnya itu langsung mengarah pada kami dan tepatnya mengarah padaku. Persetan dengan segala penjelasan bodoh Navi tentang Ratu sialan ini, persetan dengan tiga sengat ratu sialan itu, persetan dengan segala hal yang mungkin bisa membunuhku, yang jelas aku telah melangkahkan kakiku ke sini dan artinya aku harus segera keluar dengan kakiku juga.
“Navi, makhluk bodoh itu pasti punya kelemahan. Apa yang dikatakan legenda tentang hal itu?”tanyaku pada Navi.
“entah Link, tapi menurut legenda kokiri tutor mengalahkannya dengan menembakkan tuerca de deku ke matanya. Menurut tutor itulah bagian terlemah dari Gohma” Jelas Navi.
Aku tidak menghiraukan lagi apa yang akan dijelaskan oleh peri itu. aku segera mengambil Hadas tirachinas dan mencoba untuk menembakkan tuerca de deku ke arah mata Gohma. Gohma yang masih berada di langit-langit ruangan besar itu segera turun dengan merayap di dinding ruangan. Seketika Gohma berada di bawah aku merasa tubuhnya jauh lebih besar 2 kali lipat dari yang aku lihat di atas. Saat itu rasa takut mencoba menguasai diriku namun aku tidak ingin berakhir di sini.
Aku menarik Hadas tirachinas, belum sempat aku melepaskan tuerca de deku Gohma menghantamku dengan kaki besarnya. Aku terlempar dan langsung terhempas ke pilar besar di belakangku. Tubuhku terasa sangat sakit mungkin ada beberapa tulangku yang retak. Karena dorongan tidak ingin berakhir di tempat pengap menjijikkan ini aku segera bangkit.
“hei Ratu bodoh, kau bukan apa-apa bagiku” aku menembakkan tuerca de deku dari Hadas tirachinas dan tepat mengenai matanya.
“lagi Link tembak hingga merah lalu gunakan pedangmu” teriak Navi.
Aku segera mengambil beberapa tuerca yang terjatuh dan terus menembakkan ke arah Gohma. Saat matanya terlihat begitu merah aku menyadari saat itu juga gohma telah begitu lemah. Dengan segera aku langsung menghantamkan espada de kokiri ke arah matanya. Terlihat mata gohma mengeluarkan semacam cairan aneh. Entah kenapa, tapi Gohma terlihat begitu kesakitan dan dia berputar-putar mengelilingi ruangan dengan sangat tidak beraturan. Tiba-tiba Gohma menabrak pilar paling besar di ruangan ini dang jatuh tersungkur.
“Link lihat itu, itu jalan keluar kita” Navi menunjuk kearah sebuah berkas cahaya.
Aku yang masih memperhatikan bankai gohma hanya mengikuti kemana Navi pergi. Sesaat setelah kami memasuki berkas cahaya itu kami telah berada di depan Gran Arbol Deku.
“Link, Navi. Terima kasih.” Sambut Gran Arbol Deku.
“kenapa ini sebenarnya Deku?” tanyaku penasaran.
“dahulu kala, tempat yang kita injak ini hanyalah sebuah daratan tandus yang tidak mungkin di huni oleh makhluk hidup. Lalu tiga dewa turun dengan kekuatan mereka masing-masing mencoba untuk mengubah takdir tempat ini. Din, goddess of power, dengan kekuatannya mengubah tanah tandus ini menjadi tanah layak huni. Nayru, goddes of wisdom, dengan kebijakannya dia membuatkan kita aturan alam yang harus dijalani. Faroe, goddes of courage, dengan kebesaran jiwanya menjatuhkan elemen-elemen kehidupan yang akhirnya menjadikan kita seperti ini.
Setelah tugas mereka selesai mereka meninggalkan tanah ini dan kembali ketempat asal mereka. Namun sebelum mereka pergi mereka meninggalkan triforce. Sebuah kunci kekuatan yang begitu besar, kunci yang mampu mengubah dunia ini tergantung orang yang menggunakannya. Segitiga ini telah menjadi penyeimbang dunia kita sejak tiga dewa meninggalkan tanah ini.
Beberapa waktu lalu seorang laki-laki keturunan gerudo datang padaku meminta kokiri emerald agar diserahkan padanya. Namun karena kokiri emerald adalah penyeimbang hutan ini aku tidak bisa memberikannya. Dengan pandangan yan penuh amarah dia menjatuhkan sebuah telur dan membuatku menderita kutukan yang baru saja engkau hancurkan. Saat itu aku menyadari Link, takdirmu telah dimulai. Takdir seluruh dunia ini saat ini berada padamu. Pergilah ke kastil, ke Hyrule temui seorang perempuan yang akan menjadialasan besarmu untuk menyelamatkan bumi. Dia akan menjelaskan segala sesuatu yang belum engkau mengerti Link. Dialah kunci dari takdirmu, pergilah link bawa kokiri emerald ini.”
Setelah penjelasan dari Gran Arbol Deku aku menerima sebuah kristal hijau, kristal yang telah menyeimbangkan kehidupan seluruh daerah kokiri.
“tapi Deku jika aku mengambil benda ini maka keseimbangan hutun kokiri akan tergangu” aku mempertanyakannya pada Gran Arbol Deku.
“pergilah Link, keseimbangan tempat ini akan menjadi tanggung jawabku.”
Mendengar hal itu aku segera melangkahkan kaki untuk segera ke hyrule. Baru beberapa langkah aku menjauh aku merasakan ada hal yang aneh. Aku segera berbalik kebelakang dan menyadari bahwa Gran Arbol Deku telah mati.
“Deku” teriakku.
“ayo Link, jangan siakan pengorbanan Deku demi tempat ini. ayo kita lakukan apa yang dia minta sebelum dia merelakan kehidupannya demi keseimbangan tempat ini” Navi tidak lagi menoleh ke arah Deku. aku yakin rasa sedih yang ada pada Navi begitu besar. Lalu kami berdua pergi keluar dari tempat kebesaran Gran Arbol Deku.

1 comment: