The Summoned Kid
Aku terbangun lagi dari mimpi burukku. Sungguh aku sangat tak mengerti ini sudah yang kesekian kali nya aku memimpikan hal yang sama berulang-ulang. Apa sih sebenarnya hubungan aku dengan mimpi itu. Di dalam mimpiku aku berdiri di depan sebuah kastil megah berdinding kokoh, sekeliling kastil ditutupi oleh dinding tegak yang terlihat sangat kokoh begitu pula di sekelilingnya terdapat aliran air selebar 10 hingga 12 kaki menutup kemungkinan orang untuk masuk tanpa melewati pintu. Tapi bukan itu masalah dari mimpi bodoh ini. Di dalam mimpiku aku melihat dua orang wanita keluar dari kastil dengan wajah begitu ketakutan menaiki kuda putih. Aku yakin salah seorang dari mereka memanggilku, tapi entah itu siapa, sangat asing bagiku. Lalu setelah dua wanita itu berlalu sesaat kemudian datang seorang lelaki berperawakan tinggi kulit coklat gelap menghampiriku di atas kuda hitamnya. Begitu dia mendekatiku sungguh yang aku rasakan kengerian yang sangat besar aku bahkan tak mampu untuk menggerakkan kakiku ketika sorot mata tajamnya menatapku. Dengan nada yang sangat mampu menggetarkan seluruh kengerian dia bertanya “ anak bodoh, kau melihat mereka pergi. Kemana arah mereka pergi?” aku sungguh tak mampu berkata-kata. Hingga tatapan dinginnya berubah menjadi amarah dan dengan santainya ia mengarahkan telapak tangannya ke arahku, entah kenapa dari telapak tangannya aku melihat cahaya terkumpul lalu sesaat kemudian aku mendapati diriku telah terjerembab dengan luka yang sangat serius hingga aku terbangun dari mimpiku.
Sudah lebih dari 3 kali mimpi itu menghiasi malamku dengan kengeriannya. Saria, temanku, selalu berkata bahwa mimpi itu akan membawa takdir dunia berada ditanganku tapi aku sangat tidak mengerti. Jangankan melihat kastil, keluar dari desapun aku tidak pernah. Memang itulah kebiasaan di Kokiri, tidak satupun orang-orang Kokiri yang pernah keluar dari hutan tempat kami tinggal. Para tetua percaya bahwa seorang Kokiri akan langsung mati jika telah meninggalkan hutan. Di sini, Kokiri, setiap orang memiliki seekor peri yang akan selalu bersamanya dari ia lahir hingga mati nanti. Di Kokiri orang-orang tidak akan bisa dibedakan yang mana orang yang tua atau yang masih muda. Orang-orang Kokiri akan tumbuh hingga umur 12 tahun lalu kemudian tubuh kami tidak akan bertambh tua, hanya usia kami yang terus bertambah. Tapi sebagai orang Kokiri, aku dalah orang yang paling aneh di sini. Tidak ada peri yang mau menemaniku hingga teman-teman dan orang-orang memanggilku “no fairy-boy” hanya Saria yang selalu memanggilku dengan nama panggilanku, Link.
Setelah diam beberapa saat di tempat tidur aku mencoba untuk mencari angin segar. Aku tidak yakin tapi biasanya jika mentari telah berada di posisi seperti ini, Saria biasanya akan datang membangunkanku.
“Link!” terdengar suara Saria dari luar rumahku.
“ya, tunggu sebentar Saria” jawabku.
Saria adalah seorang wanita cantik dengan mata biru dan rambut hijaunya, dia sangat pantas mendapat julukan women of the forest. Bukan hanya karena dia seorang wanita yang paling cantik di hutan ini tapi juga karena dia adalah wanita yang paling peduli tentang lingkungan ini. Meskipun Saria teman baikku tapi dia agak jauh lebih tua dariku, umurnya sekitar 17 tahun, 5 tahun lebih muda dariku tapi tetap saja tubuhnya tetap seperti anak umur 12 tahun.
Aku segera keluar menghampiri Saria setelah berbenah sedikit.
“hai Link, selamat pagi” sapa Saria dengan senyum manisnya. Kadang aku berfikir untuk dilahirkan 6 tahun lebih cepat jadi mungkin sekarang aku sudah bisa mendampingi Saria.
“ pagi Saria, hari ini aku tidak dibanugunkan lagi kan? Hehehehe” godaku pada Saria.
“ yah setidaknya itu adalah kemajuan besar untukmu Link” ejeknya.
Kami bercakap-cakap di depan rumahku. Untuk sesaat aku selalu berfikir bahwa aku adalah orang yang sangat beruntung memilki teman seperti Saria. Setelah orang tuaku meninggal saat aku baru lahir aku tidak memiliki satupun keluaraga di Kokiri. Semua orang adalah orang asing bagiku, hingga Saria mendatangiku saat umurku masih 2 tahun. Ketika aku di dekat Saria aku tidak pernah memikirkan tentang ejekan orang yang selalu memperolokku dengan kata-kata no fairy boy. Karena bagiku Saria lebih dari sekedar teman hingga bisa menggantikan posisi peri di sisiku.
Beberapa saat kami bercengkrama, tiba-tiba seekor peri datang menabrakku dengan cukup keras.
“ aduh, maaf” peri tersebut berputar mengelilingiku.
“ ada apa denganmu? Kau tersesat?” tanyaku.
“ kau jangan menghinaku yah, mana ada peri bisa tersesat” jawabnya dengan nada jengkel.
“ ini ada apa sih?” tanya Saria.
“ aku ada perlu denganmu Link” jawab peri itu dengan nada yang cukup serius.
“ namaku adalah Navi, salah satu peri bebas milik tetua pohon Deku. Tetua ingin kau menemuinya sekarang. Dia berpesan bahwa takdir dunia ini akan segera menjadi tanggung jawabmu. Dia mengustusku untuk menjemputmu” jelas Navi.
Tetua deku, Gran Arbol Deku, adalah pohon besar yang mengendalikan pertumbuhan hutan. Beberapa orang percaya deku adalah makhluk pertama yang membangun hutan ini. Dengan tinggi sekitar 40 sampai 45 kaki, Deku selalu berusaha untuk menjaga pertumbuhan hutan demi kami para penghuni Kokiri. Dia adalah sebuah pohon yang sangat tua dengan daun yang begitu rimbun. Beberapa dari para orang tua di Kokiri selalu menitipkan anak mereka yang masih kecil pada deku untuk diajarkan kebijakan tentang kehidupan. Meamng belakangan ini Deku agak aneh, beberapa kali aku merasakan jelas bahwa banyak pertumbuhan liar dari rumput-rumput penjaga hutan. Biasanya rumput ini hanya tumbuh di sekitar daerah terlarang untuk menjaga agar tak ada yang memasuki daerah tersebut.
“ apa yang terjadi Navi?” tanya Saria.
“ tadi deku menyuruhku untuk pergi ke desa dan mencari seorang anak bernama Link. Menurut deku dia adalah satu-satunya orang yang akan mampu mengemban tugas untuk menyelamatkan kehidupan di seluruh Hyrule. Belakangan ini deku merasa sangat aneh dan dia merasa bahwa takdir anak ini akan segera menghampirinya. Deku percaya ‘no fairy-boy’ ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh penghuni kokiri lainnya” jelas Navi.
Aku sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan Navi tapi terlihat jeelas dia saat ini sangat ketakutan akan suatu hal. Saria yang mendengar penjelasan dari Navipun langsung berubah raut wajahnya. Ini adalah kali pertama aku melihat raut wajah Saria begitu seriusnya.
“ Link sepertinya kau harus segera menemui Deku, aku merasakan ada sesuatu hal yang besar yang terjadi, sesuatu yang amat sangat penting” Saria berdiri dan melihat ke arah tempat Deku.
“ tapi Saria, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.
“pergilah, temui dia dan kau akan mendapatkan jawabanya” jawab Saria simple.
Saria turun dari rumahku, dengan santainya dia pergi sambil menyanyikan lagu forestry dengan ocarinanya. Saria tidak pernah ketinggalan dengan ocarinanya, aku tidak habis pikir bagaimana jika seorang Saria kehilangan ocarina kesayangannya yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi.
“ayo no fairy-boy” ajak Navi.
“berhenti memanggilku dengan sebutan itu, namaku Link” aku agak jengkel sekarang, sungguh aku tidak pernah ingin disebut oleh orang-orang dengan sebutan bodoh seperti itu.
“yahhh, terserahlah” ayo cepat.
Aku bersegera mengambil topi Kokiri milikku. Aku sungguh masih sangat bingung dengan apa yang sedang tejadi, mengapa aku yang dipilih, ada apa dengan Saria, ada apa dengan Gran Arbol Deku. Semua begitu samar-samar di depanku. Dalam lamunanku aku terus mengikuti Navi, beberapa saat aku percaya Navi sedang mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku sibuk dengan tanda tanya besar di dalam otakku.
“Link, Link, Link” samar-samar terdengar suara Navi memanggilku.
“ hei Link, kau mendengar apa yang aku jelaskan padamu?” teriak Navi.
“emm, tidak ada apa sih?” tanyaku.
“ aku bingung bagaimana bisa nasib seluruh dunia dipertaruhkan pada anak yang sangat suka melamun sepertimu. Begini Link, Gran Arbol Deku mengatakan padaku kau harus ke pekarangan milik Midow, di pekarangannya terdapat sebuah tempat dimana Deku meneyembunyikan suatu hal yang akan sangat berguna untukmu. Dia bilang kau harus mengambilnya, dia yakin kau akan sangat membutuhkannya dan satu lagi Deku bilang hati-hati karena tempat itu terdapat batu-batu besar yang menggelinding” jelasnya.
Aku sungguh tidak menegerti dengan segala hal ini, tiba-tiba kehidupanku yang selama ini biasanya dihiasi dengan permainan dan kesenangan harus segera berubah. Aku melangkah menuju pekarangan belakang rumah Midow. Sungguh jika harus memilih aku lebih baik pergi ke hutan ketersesatan dibandingkan harus berkeliaran di dekat rumah Midow. Midow adalah seorang kokiri yang sangat membenciku, mungkin karena dia terlalu mencintai Saria tapi Saria justru mendekat padaku atau juga karena aku terlalu sering membuat masalah dengannya. Tapi aku yakin dia orang yang baik. Aku pernah melihatnya berlatih ocarina meski jujur nada yang dikeluarkan dari tiupan ocarina nya tak jauh berbeda dengan seekor keledai meringkik. Aku juga sering melihat dia menjaga jalan masuk ke arah tempat bersemayam Gran Arbol Deku, jelas itu bukan untuk mencari perhatian Saria melainkan untuk mencegah orang-orang terluka oleh Deku Guardian.
Aku masih tidak habis pikir mengapa aku harus melangkahkan kaki ke pekarangan milik Midow. Oh tuhan, semoga dia saat ini sedang sibuk dengan urusan-urusan bodohnya. Aku segera berlari menuju ke pekarangan kumuhnya. Aku tak yakin ini pekarangan, mungkin lebih cocok jika di sebut hutan di dalam hutan. Sedikit was-was aku mendekatinya, yah bukan karena aku takut tapi aku malas jika harus berhadapan dengannya, apa lagi saat ini ada seekor peri berada di dekatku. Aku yakin hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat istimewa baginya untuk dibahas. Dan entah apa yang akan dia olok jika Navi dengan sengaja memberi tahu bahawa aku di panggil oleh Great Arbol Deku.
Di ujung pekarangan belakang Midow terlihat tebing tinggi yang pasti belum pernah aku jelajahi selama 12 tahun di kokiri ini. begitu tinggi hingga aku yakin Midow pun pasti tidak pernah menginjakkan kakinya di atas tebing ini.
“hei link, bisakah kau berhenti melamun” tegur Navi.
“ah yah, iya, emmm. Jadi bagaimana aku harus menaiki tebing ini untuk mendapatkan hal yang di sembunyikan oleh Deku?” tanyaku.
“bukan di naiki, tapi itu. ada lubang. Masuk kesana sekarang dan kau akan keluar di balik tebing ini” langsung Navi pergi meninggalkanku melalui lubang itu.
Sesaat kemudian, “hei pemalas, cepat” teriak Navi.
Aku dengan tergopoh-gopoh merangkak sungguh ini tempat tersempit yang pernah aku masuki. Aku harap lorong sempit ini tidak terlalu panjang. Benar saja, beberapa saat kemudian aku melihat cahaya di ujung lain dari lorong ini. aku keluar dari ujung lorong pengap itu, merangkak seakan telah ratusan tahun aku tidak melihat cahaya matahari. Tapi sungguh saat aku keluar dari lorong sempit gelap itu mataku seaakan harus beradaptasi dahulu dengan cahaya yang baru aku terima, entah karena apa tapi cahaya di daerah ini sepertinya jauh lebih terang dari pada di kokiri. Selang beberapa waktu aku baru menyadari, tempat ini begitu sempurna bahkan terlalu sempurna. Setiap serangga mulai dari kupu-kupu hingga ngengat terlihat begitu indah dengan bunyi air mengalir, aku yakin dengan suasana seperti ini tak akan ada yang mampu membuat perasaan menjadi suram. Navi yang dari tadi begitu tergopoh-gopoh dan terus menerus memaksaku untuk cepat, saat ini dia hanya terdiam membisu. Cahaya perinyapun jauh lebih berkilau dari pada di kokiri.
Aku membiarkan Navi terhanyut dengan lamunannya, sementara itu aku mencoba untuk meraih tempat tinggi untuk melihat semua yang ada di sini. Walau bagaimanapun aku harus mencari sesuatu yang bisa membantuku seperti kata Deku pada Navi. Aku benar benar tak mengerti apa yang harus aku cari, yang aku lihat hanya tempat yang indah dengan ukuran 13 kali 16 kaki. Tapi benar kata Navi, ada batu-batu besar yang menggelinding mengitari tempat ini. entah apa yang di sembunyikan di sini tapi aku yakin cukup berharga mengingat batu besar ini bisa saja membuat seseorang patah tulang jika kena. Di sudut tempat ini aku melihat sebuah kotak, peti kayu ukuran 5 X 3 X 4 kaki. Dalam benakku terpikir mungkin hal itu lah yang aku cari. Tapi cukup berbahaya jika aku sembarangan ke sana. Aku terus memperhatikan batu besar ini menggelinding, aku mendapati beberapa celah di mana manusia seukuranku bisa masuk tanpa terkena hantaman dari batu gila ini.
Aku mencoba apa yang aku pikirkan. Meski dengan susah payah dan mendapatkan beberapa cindera mata di sekitar siku dan lutut karena terjatuh tapi setidaknya tubuhku tidak kehilangan suatu tulang pun. Aku melangkah perlahan menuju ke peti tersebut, entah mengapa tetapi dadaku berdegup cukup keras. Aku cukup kesulitan membuka peti ini, yang pertama karena peti ini setinggi tubuhku dan juga peti ini cukup berat. Seandainya tadi aku mengajak Ingo atau Auru ke sini, mungkin aku tidak akan kesulitan. Tepat sebelum tutup peti terbuka imajinasi hyperaktif otakku langsung bekerja, terbayang di benakku di dalam peti ini adalah emas yang akan cukup untuk membangun hutan emas dan daun-daun nya adalah rupees-rupees saphire. Dengan sedikit berusaha keras aku mampu membuka peti ini dan yang aku lihat adalah sebuah pedang dan tameng yang terbuat dari kayo pohon Deku. Aku yakin meski hanya terbuat dari kayu tameng ini cukup kuat jika hanya ingin menahan laju dari tembakan Deku Matoral.
Aku bersegera kembali ketempat Navi, mungkin dia tahu kalau pedang inilah yang harus aku ambil sebagaimana yang dikatakan Deku padanya. Ketika aku akn kembali ke tempat Navi kali ini semua terasa lebih mudah, seakan batu yang menggelinding dengan derasnya menghalangiku ke arah peti ini saat ini memperlambat lajunya dan membiarkan aku lewat. Dengan sangat mudah aku melangkahkan kakiku kembali ke tempat Navi yang masih terdiam membisu melihat sekitar. Aku yakin sudah agak lama aku meninggalkannya tapi sepertinya pesona dari tempat ini terlalu kuat untuk Navi hingga dia belum bisa sadar dari lamunannya. Sesampainya aku di dekat Navi aku langsung menyadarkannya untuk kembali bersamaku.
“hei peri bodoh, bangun dari lamunanmu” ucapku tepat didepan wajahnya. Sontak dia langsung terbang menjauh karena terkejut.
“aku hanya bisa mendapatkan dua benda ini” kataku seraya menyodorkan pedang dan tameng yang baru aku ambil dari peti di sudut tempat ini.
“ini... ini... ini adalah pedang milik Kokiri Tutor. Espada de kokiri dan deku eskudo. Ini adalah perlengkapan yang membuat kokiri menjadi tempat yang begitu damai. Dua benda ini adalah hal yang selalu dicari oleh orang-orang Kokiri selama ratusan tahun” jelas Navi. Jujur aku sangat terkejut mendengar hal itu bagaimana bisa aku menemukan hal yang sangat sakral bagi Kokiri.

ini cerita lanjutan atau baru dimulai??
ReplyDeletemenarik far...^_^
ini cerita baru mulai..
ReplyDeletemakasih
oke deh...tiap kapan ceritanya update...
ReplyDeleteaku interest nian...:D
yahhh
ReplyDeletebisa diusahain selama si link belom mati, atau si penulis masih bernafas pke oksigen bukan pake neutrini cerita bakal di update 7 hari sekali..
:D
wuiiii....gaya mu...XD
ReplyDeleteok deh bos....siip..
lah bener toh..
ReplyDeletemasa' klo si link dah mati masih mo d lanjutin ceritanya..
oh y,..
ajak tmen2 ya buat join out of the box..
hhe
blog mu dah ku follow mohon follow back
ReplyDeletehahahhaha...iya, aku usahakan ya..^^
ReplyDeleteyoy...
ReplyDeletemakasih..