Saturday, 18 September 2010

Legend of Zelda Ocarina of Time




The Infiatable Fate        



 Ini adalah kali pertamaku berdiri dihadapan pelindung hutan karena keinginannya. Aku telah beberapakali bertatap muka dengan Gran Arbol Deku, namun itu bukan karena suatu perihal yang serius ataupun karena kesengajaan. Biasanya anak-anak dari hutan Kokiri menemui Gran Arbol Deku karena sesuatu yang sangat gawat tentang perinya dan hal itu yang membuatku sangat jarang menemuinya. Aku juga masih terpikir dengan kata-kata Midow di depan jalan masuk ketempat Deku.

“Hah, kau yang dipanggil oleh Gran Arbol Deku? aku sangat tidak bisa mempercayainya. Kau kan orang tidak memiliki peri, bagaimana bisa kau dipanggil karena hal yang sangat gawat seperti ini. apa ini? kau menemukan senjata sakral Kokiri? Meski kau telah menemukannya aku tetap tidak percaya kau orang yang mampu mengemban tugas ini” kata-kata itu masih sangat jelas terngiang di otakku. Bukan karena aku tersinggung akan omongannya tapi justru aku sangat penasaran dengan apa yang dia katakan.
Gran Arbol Deku saat kutemui sangat berbeda, beberapa dari daun pohonnya menguning. Menurut beberapa tetua Kokiri, Gran Arbol Deku tidak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda tuanya. Jangankan daunnya menguning daunnya terlihat tua pun sangat jarang bahkan hampir dikatakan tidak pernah.
Aku mendekati Gran Arbol Deku, sungguh aku sangat merasa gugup dengan segala hal yang terjadi ini. aku mencoba untuk menenang kan diri, mungkin saja Gran Arbol Deku memiliki alasan yang sangat kuat mengapa aku dipanggil ke sini. Kulihat Gran Arbol Deku masih berdiri dengan tegapnya, meski cahayanya telah sedikit meredup tapi dia masih terlihat sangat gagah.
“Link, ini adalah saatnya kau membuktikan keberanianmu dan seberapa pantas kau sebagai orang yang telah dari dulu diberikan ramalan tentang penyelamatan dunia. Di dalam tubuhku terdapat sebuah ruangan, biasanya raungan ini dipakai untuk menyimpan suatu batu yang sangat berharga. Namun beberapa hari lalu ketika mentari telah hilang dari singgasananya, seseorang datang meminta batu itu. Karena begitu pentingnya batu itu untuk hutan ini, aku tidak bisa memberikannya. Kemudian dia berlalu, keesokan harinya aku merasakan sesuatu hal yang aneh dengan tubuhku. Aku berfikir inilah saatnya kau tahu takdirmu tapi sebelum itu kau harus membuktikannya dulu. Masuklah kedalam sini, kau akan ditemani Navi yang telah sering berada di dalam tubuhku” suara berat bijaksana dari Gran Arbol Deku masuk ke dalam ingatanku.
Aku belum sempat bertanya mengenai keterkaitanku tentang semua ini lalu kemudian tampak sebuah jalan masuk di depanku. Gran Arbol Deku yang tadi menjelaskan tentang kenapa aku di panggil ke sini kini terdiam bisu. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang sangat menggangunya. Entah datang dari mana, tapi tiba-tiba aku bergerak maju menuju jalan masuk yang cukup gelap itu.
Meski telah memiliki keberanian yang cukup besar untuk masuk ke dalam ruangan di dalam perut pohon besar ini aku tetap sangat menghawatirkan apa yang akan aku hadapi di dalam tempat ini. Navi terus menemaniku dan mengikutiku di belakangku, sepertinya meski Navi telah sering masuk ke dalam tempat ini dia masih memiliki kehawatiran tentang sesuatu. Entah apa yang dia khawatirkan tapi jelas hal itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.
“hei Navi, jadi katanya kau sering masuk sini.? Apa yang kau lakukan?” tanyaku pada Navi berharap bisa memecah rasa cemas yang kami rasakan.
“engkau tidak akan mau mendengarnya, yakinlah. Ini bukan sesuatu yang menyenangkan” jawab Navi agak dingin.
“awas!!” Navi berteriak mencoba untuk menghentikan langkahku.
Benar saja jika saja Navi tidak menghentikan langkahku pasti saat ini aku telah terluka cukup serius. Di hadapan kami ada sebuah Deku Baba, tanaman carnivora yang mampu bergerak dengan sesuka hatinya. Baba adalah perkembangan dari Marchito Baba. Berbeda dengan Marchito Baba yang hanya bisa berputar namun tetap dalam posisi tegak  Baba mampu menggerakkan kepalanya ke arah mangsanya. Baba biasanya tumbuh di tempat-tempat terlarang dan beberapa di letakkan di perbatasan Kokiri agar penghuni Kokiri tidak melewati batas-batas hutan.
Aku yang masih sangat terkejut dengan kehadiran Baba di depanku sontak terjatuh ke belakang. Navi yang melihatku terjatuh langsung mendekatiku.
“Link, meski Baba mampu mengarahkan kepalnya ke arah kita namun dia masih terbatas karena batangnya yang pendek. Ketika kepalanya berada di dalam jarak serangmu gunakan espada de kokiri untuk membunuhnya” jelas Navi sedikit cemas dengan keadaanku.
Dengan sedikit keraguan aku mencabut pedang dari pinggang kananku. Aku belum pernah sedikitpun menggunakan pedang. Mana mungkin menggunakan pedang sama dengan menggunakan pisau kecil atau sama dengan menggunakan taring dari binatang buas. Dengan sangat kikuk aku mengayunkan pedang ke arah Baba namun mengayunkan pedang tak semudah yang aku bayangkan. Sontak pedangku terlepas dari gengamanku namun beruntungnya tetap mengenai Baba. Aku segera berlari ke arah espada terlempar yakni tepat di tengah perut Deku, ketika aku mencabut pedang itu aku baru menyadari tempat ini bukan sesuatu yang menyenangkan. Tempat ini penuh dipenuhi dengan sarang laba-laba tapi ini bukan laba-laba biasa, ini adalah ciri utama dari sarang Skulltula Pared atu yang biasa dipanggil Skulwalltula. Ini sangat aneh karena Skulwalltula hanya hidup ditempat yang tidak terjamah oleh orang-orang dan biasanya juga skulwalltula hanya akan hidup jika ada yang mau mengembangbiakkannya.
“Link, ini bukan seperti zdungeon biasanya” kata Navi mendekatiku
“zdungeon? Maksudmu?” tanyaku.
“ini adalah tempat persembunyian para ksatria Kokiri. Para pendiri Kokiri meminta bantuan dari Deku untuk bersembunyi dari para musuh. Kemudian Deku menyediakan tubuhnya untuk dipakai, karena kenyamanan dan kenikmatan para ksatria lupa akan segala hal yang terjadi diluar tempat persembunyian. Dengan kekuatannya Gran Arbol Deku memberikan tubuh mereka keterbatasan untung berkembang, hingga anak-anak dari para ksatria itu tak mampu lagi tumbuh jika telah sampai umur 12 tahun. Namun karena tubuh mereka berada di bawah kekuatan dan penjagaan Gran Arbol Deku orang-orang Kokiri tak mampu untuk melewati batas-batas hutan Kokiri.” Jelas Navi
“jadi itu yang menyebabkan kami tidak boleh keluar hutan” aku mulai mengerti semua ini.
“cepat Link kita harus menghabisi induk dari monster-monster ini. Skultula, Skulwalltula, Deku Baba, Deku scrub, semua monster ini pasti punya sumber. Deku tidak akan membiarkan tempat peristirahatan para ksatria ini dikotori oleh monster-monster ini?” ajak Navi.
Tempat ini begitu megah, memang sangat cocok dijadikan sebagai tempat persembunyian dari para ksatria. Namun aku sangat bingung bagaimana bisa tempat yang indah seperti ini dipenuhi oleh monster-monster yang sangat berbahaya. Mungkin benar kata Navi, ini pasti ada sumber. Dan yang harus dilakukan adalah menghancurkan akarnya.
“Link lihat ini” Navi memanggilku seraya menunjukkan sesuatu padaku.
“kenapa Navi?”
“ini, lubang ini belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku yakin ini ada kaitannya dengan monster-monster disini’ jelas Navi dengan nada cukup membingungkan
“Link, Navi, pergilah ke suatu ruangan yang terletak di tempat yang lebih tinggi dari kalian berdiri sekarang di sana ada sesuatu yang akan bisa membantumu. Itu adalah pelengkap dari senjata sakral yang saat ini kau pegang Link. Espada de Kokiri, Deku eskudo dan, satulagi adalah pemberian peri. Aku tidak tahu benda apa itu, tapi ksatria legendaris Kokiri menitipkannya padaku” suara dari Gran Arbol Deku semakin lama semakin melemah hingga tiba-tiba suara itu benar-benar lenyap.
Dengan lenyapnya suara dari Deku cahaya peri Navi menjadi pudar. Dia langsung terbang menuju ke arah tanaman rambat yang merambat hingga ketinggian yang bisa mencapai langit-langit ruangan utama. Navi kemudian terbang menyusuri daerah tersebut dengan cukup sempoyongan, terbang Navi yang ku lihat energik saaat ini tak tampak lagi. Ini pasti ada kaitannya dengan Gran Arbol Deku.
“ayo Link, kita harus bersegera” ajak Navi yang sudah ada di posisi yang lebih tinggi dariku.
Aku melihat Skulwalltula menyadari kehadiran Navi, langsung aku menyadari hal ini akan membahayakan Navi. Melihat skulwalltula bergerak cepat mendekati Navi aku langsung berpikir bagaimanapun caranya aku harus menghentikan laba-laba bertubuh tengkorak itu. Aku mendapati di dekatku ada sebuah deku nueces sisa dari Deku Baba yang terbunuh barusan. Aku melemparkan buah dari pohon deku tersebut dengan harapan akan mengenai skulwalltula atau setidaknya mampu menghentikan laba-laba bodoh itu. Skulwalltula menyadari lemparan dariku entah sejak kapan tapi aku merasakan kehadiran Skultula di belakangku. Berbeda dengan skulwalltula yang lebih suka merayap di dinding atau di jaring miliknya, Skultula memiliki tubuh 2 kali lebih besar dari Skulwalltula dan dia lebih suka bergelantungan dan menyergap mangsanya dengan tiba-tiba. Aku yang terus menghawatirkan Navi dengan mudahnya di serang oleh skultula. Beruntungnya dia hanya memukulku dengan putarannya, Navi yang murung langsung menghampiriku.
“link skultula memiliki pengelihatan yang sangat buruk jadi dia memanfaatkan kemampuan sensitifitas dari jaring perangkap yang dipasangnya di bawah tempat dia bergelantungan. Perhatikan jaring it tidak terlalu besar namun sangat sensitif, satu-satunya cara untuk membunuhnya adalah dengan menyerang bagian bawah tubuhnya tempat yang tidak dilindungi oleh tengkorak keras di tubuhnya” jelas Navi dengan terus memperhatikan skultula.
Aku yang masih merasa sangat kesakitan oleh serangan skultula tadi langsung berdiri mengambil posisi menghadap bagian tubuhnya yang tak terlindungi. Sebelum dia menyadari kehadiranku aku langsung menghantam bagian tubuh tersebut dengan espada Kokiri. Benar saja, dengan satu kali serang skultula langsung terjatuh tidak berdaya. Aku sungguh masih merasakan sakit dari hantaman kaki skultula itu, mungkin tanganku sedikit memar karenanya.
“ kau tidak apa kan Link?” tanya Navi seraya memeperhatikan tanganku yang terluka.
Navi memperhatikan memar di tangan kananku, dengan hati-hati dia menyentuhnya. Aku tidak percaya, sungguh seketika Navi menyentuh memarku tanganku tidak bisa merasakan apapun tapi setelah itu tanganku terasa seperti tidak terjadi apapun.



1 comment: